Kenali Gejala Andropause pada Pria

detail berita

paroxymal

Gangguan dalam seputar kehidupan seksual memang kerap hadir mewarnai kehidupan seks setiap pasangan. Tak dapat dimungkiri, dalam kehidupan nyata para pria juga dapat mengalami suatu gejala yang mirip seperti menopause, meskipun tidak sama persis. Konon gejala yang disebut andropause ini tak lain karena dipengaruhi faktor usia.

Melalui buku panduan “Seks yang Membahagiakan” yang ditulis oleh Prof Dr dr Wimpie Pangkahila SpAnd, kini para kaum adam tak perlu khawatir, pasalnya gejala andropause dapat dikenali sejak dini.

Istilah andropause digunakan bagi sekumpulan gejala dan keluhan yang dialami pria sebagai akibat menurunnya kadar hormon testosterone. Hormon testosterone, kerap juga disebut hormon seks, padahal fungsinya tidak hanya pada organ seks.

Hormon testosteron memang berpengaruh besar bagi fungsi seksual pria dan wanita terutama bagi dorongan seksual, ereksi penis dan klitoris, reaksi perlendiran vagina dan juga sensasi orgasme. Tetapi hormon testosterone juga berperan penting bagi fungsi otak, otot, tulang , lemak pembentukkan darah dan sistem kekebalan tubuh.

Karena itu, kalau terjadi penurunan kadar testosteron, muncul gejala dan keluhan yang pada pria disebut andropause. Istilah lain untuk menyebut andropause yaitu ADAM (Androgen Defiency in Aging Males) yang berarti kekurangan androgen (testosteron) pada pria usia lanjut.

Penurunan kadar hormon testosteron pada pria menimbulkan beberapa gejala dan keluhan pada berbagai aspek kehidupan, di antaranya : pertama, terjadi penurunan pada kenyamanan hidup secara umum, fungsi seksual, fungsi kognitif, volume sel darah merah, kekuatan otot, massa otot, daya tahan. Kedua terjadi peningkatan massa lemak sehingga terjadi kegemukkan di bagian perut, kejadian penyakit jantung- pembuluh darah dan gangguan tidur.

Khusus mengenai fungsi seksual, terjadi keluhan dan gejala sebagai berikut: Menurunnya dorongan seksual, memerlukan waktu lebih lama untuk mencapai ereksi penis, memerlukan rangsangan langsung pada penis untuk mencapai ereksi penis, berkurangnya rigiditas (kekakuan) ereksi penis, berkurangnya intesitas ejakulasi, periode refraker menjadi lebih lama.

Periode refraker sendiri merupakan periode setelah pria mencapai orgasme dan ejakulasi sampai mampu kembali menerima dan bereaksi terhadap rangsangan seksual.

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: